6 JUNI 1901,
Putra Sang Fajar, Ir. Soekarno menyapa dunia dan hari ini pada 45 tahun yang silam,
21 Juni 1970,
salah satu tokoh proklamator, pemimpin besar revolusi mengembuskan
nafas terakhirnya dengan keadaan tragis di RSPAD Gatot Soebroto,
Jakarta.
Detik-detik meninggalnya Presiden pertama RI itu sungguh mengenaskan.
Kondisi Soekarno yang sebelumnya pada 16 Juni 1970 mengalami koma,
mengharuskannya dibawa dari Wisma Yaso (kini Museum Satria Mandala) ke
RSPAD.
Soekarno dirawat di sebuah ruang sederhana dengan hanya ditemani salah satu putrinya,
, serta dikawal ketat tentara. Dua hari kemudian, putri sulungnya, Megawati Soekarnoputri, diizinkan tentara membesuk sang ayah.
Sementara,
Mohammad Hatta,
sahabat seperjuangan Soekarno baru bisa menjenguknya pada 20 Juni di
tahun yang sama. Pertemuan nan emosional itu pada akhirnya jadi “reuni”
terakhir duet Dwi-Tunggal yang membawa Indonesia ke gerbang kemerdekaan.
Seperti dikutip dari buku ‘
Bung Hatta: Pribadinya dalam Kenangan’,
dengan segenap sisa kekuatan yang ada, Soekarno berusaha menyapa
kedatangan Hatta. “Hatta, kau di sini?,” papar Soekarno lirih.
Sekuat tenaga pula Hatta menahan ledakan tangisnya melihat kondisi
Soekarno yang mengenaskan terbaring tak berdaya. “Ya, bagaimana
keadaanmu, No?,” jawab Hatta.
“
Hoe at het met jou…?,” tanya Soekarno lagi dalam bahasa
Belanda yang artinya, ‘Bagaimana keadaanmu’. Bukannya membalas, Hatta
justru akhirnya tak bisa membendung air mata.
Keduanya berpegangan tangan ibarat tak ingin dipisahkan maut.
Soekarno dan Hatta pun tak kuasa saling menangis. Akhirnya keesokan
harinya,
21 Juni 1970, Soekarno mengalah pada takdir dengan penyakit komplikasinya. Malaikat maut menjemput nyawanya.
Sempat Soekarno berwasiat soal keinginannya dimakamkan di Batu Tulis,
Bogor, Jawa Barat. Sayangnya keinginan Soekarno itu ditolak
Presiden Soeharto. Terlepas dari perlakuannya terhadap Soekarno sejak “diasingkan” di Bogor hingga Wisma Yaso, Soeharto tetap ‘
mikul duwur mendhem jero’ – menghormati yang tua.
Soekarno pun diputuskan Soeharto akan dimakamkan dengan upacara kenegaraan. Tapi keputusan soal di mana
Soekarno
akan dikebumikan masih jadi tanda tanya besar. Keluarga besarnya
bersilang-pendapat hingga akhirnya diputuskan Soeharto, untuk dimakamkan
dekat kuburan sang ibu, Ida Ayu Nyoman Rai di Blitar, Jawa Timur.
“Andai kata kita serahkan kepada keluarga besar yang ditinggalkannya,
maka bakal repot. Saya memutuskan dengan satu pegangan bahwa Bung Karno
sewaktu hidupnya sangat mencintai ibunya,” ucap Soeharto dalam buku ‘
Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya’.
“Beliau sangat menghormatinya. Kalau beliau bepergian ke tempat jauh,
beliau sungkem dahulu, minta restu pada ibunya,” tandas Soeharto.